KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
wr.wb
Alhamdulillah,
puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan
rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “karakteristik perkembangan moral”
Shalawat
beserta salam semoga selamanya tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad
saw. karena beliaulah yang membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang
penuh dengan pengetahuan.
Salah
satu tujuan dalam penulisan makalah ini adalah guna memenuhi salah satu tugas
mata kuliah “perkembangan peserta didik”.Penulis menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan.Oleh kerena itu,
saran dan kritik maupun sumbangan pikiran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan isi makalah ini sangat penulis harapkan.
Akhirnya
penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin
Wassalamu’alaikum
wr.wb.
Ciamis, 04 juni 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR
ISI................................................................................................ ii
BAB
I PENDAHULUAN............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang............................................................................. 1
1.2 Rumusan masalah......................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan........................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN ............................................................................ 2
2.1 Pengertian
perkembangan moral................................................... 2
2.2 Tahap-tahap
perkembangan moral................................................ 3
2.3 Faktor yang
mempengaruhi perkembangan moral........................ 4
2.4 Upaya optimalisasi
perkembangan moral………………………. 6
BAB
III KESIMPULAN............................................................................. 8
BAB
IV PENUTUP..................................................................................... 9
DAFTAR
PUSTAKA ................................................................................. 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar belakang
Perkembangan moral adalah
perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam kehidupan anak berkenaan dengan
tatacara, kebiasaan, adat, atau standar nilai yang berlaku dalam kelompok
sosial.
Tahap tahap perkembangan moral
terdiri dari 3 tingkat, yang masing masing tingkat terdapat 2 tahap, yaitu :
Tingkat pra konvensional ( moralitas
pra konvensional )
Tingkat konvensional ( moralitas
konvensional)
Tingkat post konvensional (
moralitas post konvensional )
Faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan moral ini sesungguhnya banyak sekali yang terpenting antara lain:
1.
Kurang
tertanamnya jiwa agama pada setiap orang dalam masyarakat
2.
Keadaan
masyarakat yang kurang stabil
3.
Banyaknya
tulisan dan gambar yang tidak mengindahkan dasar moral
4.
Tidak
terlaksananya pendidikan moral yang baik
5.
Kurangnya
kasadaran orang tua akan pentingnya pendidikan moral dasar sejak dini dll.
2.
Rumusan masalah
a.
Pengertian
perkembangan moral
b.
Tahap-tahap
perkembangan moral
c.
Factor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan moral
d.
Upaya
optimalisasi perkembangan moral
3.
Tujuan penulisan
a.
Untuk
mengetahui perkembangan moral ?
b.
Untuk
mengetaui tahap-tahap perkembangan moral ?
c.
Untuk
mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral?
d.
Untuk
mengetahui upaya optimalisasi perkembangan moral ?
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Perkembangan Moral Pada Anak
Pengertian Perkembangan
1). Karena kata perkembangan sangat
penting sehingga banyak para ahli ikut berkontribusi dalam mengartikan kata
perkembangan.
Pengertian Moral
2). Secara etimologi istilah moral
berasal dari bahasa Latin mos, moris (adat, istiadat, kebiasaan, cara, tingkah
laku, kelakuan) mores (adat istiadat, kelakuan, tabiat, watak, akhlak) Banyak
ahli menyumbangkan pemikirannya untuk mengartikan kata moral secara
terminologi. Dagobert D. Runes Moral adalah hal yang mendorong manusia untuk
melakukan tindakan-tindakan yang baik sebagai “kewajiban” atau “norma”. Helden
(1977) dan Richards (1971) Moral adalah suatu kepekaan dalam pikiran, perasaan,
dan tindakan dibandingkan dengan tindakan-tindakan lain yang tidak hanya berupa
kepekaan terhadap prinsip-prinsip dan aturan-aturan. Atkinson (1969) Moral
merupakan pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, apa yang dapat dan
tidak dapat dilakukan Perilaku tak bermoral ialah perilaku yang tidak sesuai
dengan harapan yang sesuai dengan harapan sosial yang disebabkan dengan
ketidaksetujuan dengan standar sosial atau kurang adanya perasaan wajib
menyesuaikan diri.sementara itu perilaku amoral atau nonmoral adalah perilaku
yang tidak sesuai dengan harapan sosial, akan tetapi hal itu lebih disebabkan
oleh ketidak acuhan terhadap harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran
sengaja terhadap standar kelompok.
3. Pengertian Perkembangan Moral
Setelah
kita mengetahui arti dari kedua suku kata yaitu perkembangan dan moral maka
selanjutnya yaitu kita muali memahami arti dari gamungan dua kata tersebut
“Perkembangan Moral” Santrock (1995) Perkembangan moral adalah perkembangan
yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya
dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Perkembangan moral
adalah perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam kehidupan anak berkenaan
dengan tatacara, kebiasaan, adat, atau standar nilai yang berlaku dalam kelompok
sosial.
Bloom
(Woolfolk dan Nicolich, 1984: 390) mengemukakan bahwa tujuan akhir dari proses
belajar dikelompokkan menjadi tiga sasaran, yaitu penguasaan pengetahuan
(kognitif), penguasaan nilai dan sikap (afektif), dan penguasaan psikomotorik.
Masa bayi masih belum mempersoalkan masalah moral dan motorik, karena dalam
kehidupan bayi belum dikenal hierarki dan suara hati.Perilakunya belum
dibimbing oleh norma-norma moral.Pada masa anak-anak telah terjadi perkembangan
moral yang relative rendah (terbatas).Anak belum menguasai nilai-nilai abstrak
yang berkaitan dengan benar-salah dan baik buruk.Hal ini disebabkan oleh
pengaruh perkembangan intelek yang masih terbatas.Anak belum mengetahui manfaat
suatu ketentuan atau peraturan dan belum memiliki dorongan untuk mengerti
peraturan-peraturan dalam kehidupan.Semakin tumbuh dan berkembang fisik dan
psikisnya, anak mulai dikenalkan terhadap nilai-nilai, ditunjukkan hal-hal yang
boleh dan yang tidak boleh, yagn harus dilakukan dan yang dilarang. Menurut
Piaget, pada awalnya pengenalan nilai dan perilaku serta tindakan itu masih
bersifat “paksaan”, dan anak belum mengetahui maknanya. Akan tetapi sejalan
dengan perkembangan inteleknya, berangsur-angsur anak mengikuti berbagai
ketentuan yang berlaku di dalam keluarga, dan semakin lama semakin luas sampai
dengan ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat dan Negara. “Moral” berasal
dari kata Latin, Mores yang berarti tatacara, kebiasaan dan adapt. Perilaku
moral adalah perilaku yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat tertentu, atau
pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.Perilaku tak
bermoral ialah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan social yang disebabkan
ketidaksetujuan dengan standar social atau kurang adanya perasaan wajib
menyesuaikan diri. Sementara itu perilaku amoral atau nonmoral adalah juga
perilaku yang tidak sesuai dengan harapan social, akan tetapi hal itu lebih
disebabkan oleh ketidakacuhan terhadap harapan kelompok social daripada
pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok. Beberapa di antara perilaku
menyimpang anak kecil lebih bersifat amoral daripada tak bermoral.
Tahap-tahap perkembangan moral
Tahap
tahap perkembangan moral terdiri dari 3 tingkat, yang masing masing tingkat
terdapat 2 tahap, yaitu :
Tingkat pra konvensional(
moralitas pra konvensional )
tahap
1 : orientasi pada kepatuhan dan hukuman -> anak melakukan sesuatu agar
memperoleh hadiah dan tidak mendapatkan hukuman
tahap
2 : relativistik hedonism -> anak tidak lagi secara mutlak tergantung aturan
yang ada. Mereka mulai menyadari bahwa setiap kejadian bersifat relative dan
lebih berorientasi pada prinsip kesenangan.enurut mussen,dkk. Orientasi moral
anak masih bersifat individualistis, egosentris dan konkrit
Tingkat konvensional(
moralitas konvensional ) : tingkat konvensional berfokus pada kebutuhan sosial
( konformitas )
tahap
3 : Orientasi mengenai anak yang baik -> anak memperlihatkan perbuatan yang
dapat dinilai oleh orang lain
tahap
4 : mempertahankan norma norma sosial dan otoritas -> menyadari kewajiban
untuk melaksankan norma norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan
norma, artinya untuk dapat hidup secara harmonis, kelompok sosial harus
menerima peraturan yang lebih disepakati bersama dan melaksanakannya.
tingkat post konvensional
( moralitas post konvensional ) : individu mendasarkan penilaian moral pad
aprinsip yang benar secara intern
Tahap
5 : Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya ->
Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan dengan
linkungan sosialnya, artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai
dengan tuntutan norma sosial, maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan
dari masyarakat.
tahap
6 : Prinsip universal -> pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi
yang bersifat subjektif. Artinya dalam hubungan antara seseorang dengan
masyarakat ada unsur unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu
bbaik atau tidak baik moral atau tidak. Disini dibuthkan unsur etik / norma etik
yang sifatnya universal sebgai sumber untuk menentukan suatu perilaku yang
berhubungan dengan moralitas
Tahap-Tahap Perkembangan Moral Menurut
kohlberg
Menurut Kohlberg (dalam Sunarto dan
B. Agung Hrtono serta Mulyani Sumantri dan Nana Syaodih, 2002), ada tiga
tingkat perkembangan moral.Masing-masing tingkat terdiri atas dua tahap,
sehingga keseluruhannya ada enam tahapan (stadium) yang berkembang secara
bertingkat dengan urutan yang tetap.
Tingkat
pertama, disebut prakonventional morality (anak usia 4-10 tahun). Pada stadium
1, anak berorientasi kepada kepatuhan dan hukuman.Pada stadium 2, berlaku
prinsip Relativistik-hedonism.Pada tahap ini anak tidak lagi secara mutlak
bergantung kepada aturan yang ada di luar dirinya, atau ditentukan oleh orang
lain, tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian mempunyai beberapa segi.
Tingkat
kedua, disebut conventional morality (anak usia 10-13 tahun). Pada stadium 3,
menyangkut orientasi mengenai anak yang baik. Pada stadium ini naak
memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak
baik oleh orang lain. Stadium 4, adalah tahap mempertahankan norma-norma social
dan otoritas.Stadium 5, merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara
dirinya dengan lingkungan social.Sedangkan stadium 6, disebut prinsip
universal. Pada tahap ini ada norma etik disamping norma pribadi dan subjektif.
Dalam hubungan dan perjanjian antara seseorang dengan masyarakatnya ada
unsur-unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak
baik.Perkembangan moral menurut Peaget terjadi dalam dua tahapan yang jelas.
Tahap pertama disebut “tahap realisme moral” atau “moralitas oleh pembatasan”
dan tahap kedua disebut “tahap moralitas otonomi” atau ‘moralitas oleh kerja
sama atau hubungan timbal balik”. Pada tahap pertama, perilaku anak ditentukan
oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran atau penilaian.Pada
tahap kedua, anak menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya. Tahap
ini biasanya dimulai antara usia 7 atau 8 tahun dan berlanjut hingga usia 12
tahun atau lebih. Anak mulai mempertimbangkan keadaan tertentu yang berkaitan
dengan suatu pelanggaran moral. Misalnya bagi anak usia 5 tahun berbohong
selalu “buruk”, tetapi anak yang lebih besar menyadari bahwa berbohong
dibenarkan dalam situasi tertentu dan karenanya tidak selalu “buruk”.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
Faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan moral ini sesungguhnya banyak sekali yang terpenting antara lain:
1. Kurang tertanamnya jiwa agama
pada setiap orang dalam masyarakat
Keyakinan agama yang didasarkan pada
pengertian yang sesungguhnya dan sejalan tentang ajaran agama yang dianutnya,
kemudian diiringi dengan pelaksanaan ajaran-ajaran tersebut merupakan benteng
moral yang paling kokoh. Apabila berkeyakinan beragama itu betul-betul telah
menjadi bagian integral dari kepribadian seseorang, keyakinannya itulah yang
akan mengawasi segala tindakan, perkataan bahkan perasaanya jika terjadi
tarikan orang kepada sesuatu yang tampaknya cepat berpindah meneliti apakah hal
tersebut boleh atau terlarang oleh agamanya. Andaikan yang termasuk terlarang
betapapun tarikan luar itu tidak akan diindahkannya karena takut melaksanakan
yang dilarang oleh agamanya.
2. Keadaan masyarakat yang kurang
stabil
Faktor kedua yang ikut mempengaruhi
moral masyarakat ialah kurang stabilnya keadaan, baik ekonomi, sosial, budaya
maupun politik.Kegoncangan atau ketidakstabilan suasana yang menyelimuti
seseorang menyebabkan cemas dan gelisah, akibat tidak dapatnya mencapai rasa
aman dan ketentraman dalam hidup.Misalnya apabila keadaan ekonomi goncang,
harga barang-barang naik turun dalam batas yang tidak dapat diperkirakan lebih
dahulu oleh orang-orang dalam masyarakat, maka untuk mencari keseimbangan jiwa
kembali, orang terpaksa berusaha keras.jika ia gagal dalam usahanya yang sehat,
disinilah terjadi penyelewengan.
3. Banyaknya tulisan dan gambar yang
tidak mengindahkan dasar moral
Suatu hal yang belakangan ini kurang
mendapat perhatian kita ialah tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan,
siaran-siaran, kesenian-kesenian dan permainan-permainan yang seolah-olah
mendorong anak-anak muda untuk mengikuti arus mudanya.Segi moral dan mental
kurang mendapat perhatian, hasil-hasil seni itu sekedar ungkapan dari keinginan
dan kebutuhan yang sesungguhnya tidak dapat dipenuhi begitu saja.Lalu
digambarkan dengan sangat realistis, sehingga semua yang tersimpan di dalam
hati anak-anak muda diungkap dan realisasinya terlihat dalam cerita lukisan
atau permainan tersebut.Ini pun mendorong anak-anak muda ke jurang kemerosotan
moral.
4. Tidak terlaksananya pendidikan
moral yang baik
Faktor keempat yang juga penting,
adalah tidak terlaksananya pendidikan moral yang baik, dalam rumah tangga,
sekolah dan masyarakat.Pembinaan moral, seharusnya dilaksanakan sejak si anak
kecil, sesuai dengan kemampuan umurnya.Karena setiap anak lahir, belum mengerti
mana yang benar dan mana yang salah, dan belum tahu batas-batas dan ketentuan
moral yang berlaku dalam lingkungannya. Tanpa dibiasakan menanamkan sikap-sikap
yang dianggap baik buat pertumbuhan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa
mengenal moral itu. juga perlu diingatkan bahwa pengertian moral, belum dapat
menjamin tindakan moral. Pada dasarnya moral bukanlah suatu pelajaran atau ilmu
pengetahuan yang dapat dicapai dengan mempelajari, tanpa membiasakan hidup
bermoral dari kecil dan moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian, tidak
sebaliknya.
5. Kurangnya kasadaran orang tua akan
pentingnya pendidikan moral dasar sejak dini
Moral adalah salah satu buah iman
oleh karena itu maka agar anak mempunyai moral yang bagus harus dilandasi
dengan iman dan terdidik untuk selalu ingat pasrah kapada-Nya, dengan begitu
anak akan memiliki bekal pengetahuan untuk terbiasa mulia, sebab benteng religi
sudah mengakar di dalam hatinya.
6. Banyaknya orang melalaikan budi
pekerti
Budi pekerti adalah mengatakan atau
melakukan sesuatu yang terpuji atau perangai yang baik. Penanaman budi pekerti
dalam jiwa anak sangat penting apabila dilihat dari hadits Nabi: “Seorang bapak
yang mendidik anaknya adalah lebih baik dari pada bersedekah sebanyak satu
sha”. “Tidak ada pemberian seorang bapak kepada anaknya yang lebih baik dari
pada budi pekerti”.Namun sebagian orang tua melalaikan kepentingan pembinaan
budi pekerti dan sopan santun anak. Para orang tua yang malang itu tidak sadar,
bahwa ia telah menjerumuskan anaknya sendiri ke jurang, padahal pembinaan budi
pekerti adalah hak anak atas orang tuanya seperti hak makan, minum serta
nafkah.
7. Suasana rumah tangga yang kurang
baik
Faktor yang terlihat dalam
masyarakat sekarang ialah kerukunan hidup dalam rumah tangga kurang
terjamin.Tidak tampak adanya saling pengertian, saling menerima, saling
menghargai, saling mencintai diantara suami istri.Tidak rukunnya ibu bapak
menyebabkan gelisahnya anak-anak mereka menjadi takut, cemas dan tidak tahan
berada di tengah-tengah orang tua yang tidak rukun. Anak-anak yang gelisah dan
cemas itu mudah terdorong kepada perbuatan-perbuatan yang merupakan ungkapan
dari rasa hatinya, biasanya mengganggu ketentraman orang lain.
8. Kurang adanya bimbingan untuk
mengisi waktu luang
Suatu faktor yang telah ikut juga
memudahkan rusaknya moral anak-anak muda, ialah kurangnya bimbingan dalam
mengisi waktu luang, dengan cara yang baik dan sehat. Pada rentang usia dini
akhir adalah usia dimana anak suka berkhayal, melamunkan hal yang jauh atau
sulit dijangkau. Kalau mereka dibiarkan tanpa bimbingan dalam mengisi waktu
luang maka akan banyak lamunan yang kurang sehat timbul dari mereka.
9. Kurangnya tempat layanan
bimbingan
Terakhir perlu dicatat, bahwa
kurangnya tempat layanan bimbingan dan penyuluhan yang akan menampung dan
menyalurkan anak-anak ke arah mental yang sehat. Dengan kurangnya atau tidak
adanya tempat kembali bagi anak-anak yang gelisah dan butuh bimbingan itu, maka
pergilah mereka berkelompok dan bergabung kepada anak-anak yang juga gelisah.
Dari sinilah akan keluar model kelakuan anak yang kurang menyenangkan.
Upaya Optimalisasi Perkembangan Moral
Hurlock mengemukakan ada empat pokok
utama yang perlu dipelajari oleh anak dalam mengoptimalkan perkembangan
moralnya, yaitu:
1.
Mempelajari
apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan
dalam hukum. Harapan tersebut terperinci dalam bentuk hukum, kebiasaan dan
peraturan. Tindakan tertentu yang dianggap “benar” atau “salah” karena tindakan
itu menunjang, atau dianggap tidak menunjang, atau menghalangi kesejahteraan
anggota kelompok. Kebiasaan yang paling penting dibakukan menjadi peraturan
hukum dengan hukuman tertentu bagi yang melanggarnya. Yang lainnya, bertahan
sebagai kebiasaan tanpa hukuman tertentu bagi yang melanggarnya.
2.
Pengambangan
hati nurani sebagai kendali internal
bagi perliaku individu. Hati nurani merupakan tanggapan terkondisikan terhadap
kecemasan mengenai beberapa situasi dan tindakan tertentu, yang telah
dikembangkan dengan mengasosiasikan tindakan agresif dengan hukum.
3.
Pengembangan
perasaan bersalah dan rasa malu. Setelah mengembangkan hati nurani, hati nurani
mereka dibawa dan digunakan sebagai pedoman perilaku. Rasa bersalah adalah
sejenis evaluasi diri, khusus terjadi bila seorang individu mengakui
perilakunya berbeda dengan nilai moral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi.
Rasa malu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan yang timbul pada
seseorang akibat adanya penilaian negatif terhadap dirinya. Penilaian ini belum
tentu benar-benar ada, namun mengakibatkan rasa rendah diri terhadap
kelompoknya.
4.
Mencontohkan,
memberikan contoh berarti menjadi model perilaku yang diinginkan muncul dari
anak, karena cara ini bisa menjadi cara yang paling efektif untuk membentuk
moral anak.
5.
Latihan
dan Pembiasaan, menurut Robert Coles (Wantah, 2005) latihan dan pembiasaan
merupakan strategi penting dalam pembentukan perilaku moral pada anak usia
dini. Sikap orang tua dapat dijadikan latihan dan pembiasaan bagi anak. Sejak
kecil orang tua selalu merawat, memelihara, menjaga kesehatan dan lain
sebagainya untuk anak. Hal ini akan mengajarkan moral yang positif bagi anak
6.
Kesempatan melakukan interaksi dengan anggota kelompok sosial. Interaksi
sosial memegang peranan penting dalam perkembangan moral. Tanpa interaksi
dengan orang lain, anak tidak akan mengetahui perilaku yang disetujui secara
social, maupun memiliki sumber motivasi yang mendorongnya untuk tidak berbuat
sesuka hati.
Interaksi sosial awal terjadi
didalam kelompok keluarga. Anak belajar dari orang tua, saudara kandung, dan
anggota keluarga lain tentang apa yang dianggap benar dan salah oleh kelompok
sosial tersebut. Disini anak memperoleh motivasi yanjg diperlukan untuk
mengikuti standar perilaku yang ditetapkan anggota keluarga.
Melalui interaksi sosial, anak tidak
saja mempunyai kesempatan untuk belajar kode moral, tetap mereka juga mendapat
kesempatan untuk belajar bagaimana orang lain mengevaluasi perilaku mereka.
Karena pengaruh yang kuat dari kelompok sosial pada perkembangan moral anak,
penting sekali jika kelompok sosial, tempat anak mengidentifikasikan dirinya
mempunyai standar moral yang sesuai dengan kelompok sosial yang lebih besar
dalam masyarakat.
BAB III
KESIMPULAN
Dari
pembahasan makalah tersebut diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa,
perkembangan moral adalah perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam
kehidupan anak berkenaan dengan tata cara, kebiasaan, adapt atau standar nilai
yang berlaku dalam kelompok social. Factor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan moral diantaranya adalah factor seberapa banyak model (orang-orang
dewasa yagn simpatik, teman-teman, orang-orang terkenal, dan hal-hal lain) yang
didentifikasi oleh anak sebagai gambaran-gambaran ideal, termasuk factor
tingkat harmonisasi hubungan orang tua, anak dan factor dari masyarakat yagn
menyangkut longgar atau ketatnya control masyarakat dalam menerapkan
sangsi-sangsi terhadap pelanggar-pelanggarannya. Dan factor yang tidak kalah
pengaruhnya adalah tingkat penalaran anak, yakni makin tinggi tingkat penalaran
seorang anak maka tinggi pula tingkat moralnya. Dalam upaya optimalisasi
perkembangan moral, ada empat pokok utama yang perlu dipelajari oleh anak: a.
Mempelajari apa yang diharapkan kelompok social dari anggotanya sebagaimana
dicantumkan dalam hokum, kebiasaan dan peraturan b. Mengembangkan hati nurani
c. Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu
tidak sesuai dengan harapan kelompok d. Mempunyai kesempatan untuk berinteraksi
social untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok.
BAB IV
PENUTUP
Dengan mengucapkan
syukur al-hamdulillah, akhirnya penulis telah menyelesaikan sebuah makalah yang
berjudul karakteristik perkembangan moral yang terdiri dari pengertian,
tahap-tahap, factor , upaya optimalisasi perkembangan moral.
Mudah-mudahan dengan
selesainya pembuatan makalah ini, penulis dapat mengembangkan wawasan tentang
apa yang terdapat dalam isi makalah ini.
Semoga dengan adanya makalah ini, saya selaku
penulis dapat mempraktekkannya dalam
kehidupan sehari-hari dan mengajarkannya kepada para siswa/i di
sekolah/madrasah di mana kita berbakti untuk kepentingan syiar agama islam.
Semoga Allah swt.
Memberi rahmat kepada kita semua, supaya apa yang dikerjakan oleh kita semua
dapat bermanfaat dan mendapat ridho dari Allah swt. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Dra. Desmita, M.Si. Psikologi
Perkembangan Peserta Didik. Remaja Rosdakarya, Bandung, tt Dra. Enung Fatimah,
M.M. Psikologi Perkembangan. Pustaka Setia, Bandung. 2006 Fauzi, H. Ahmad.
Psikologi Umum. CV Pustaka Setia, Bandung. 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar