Blogger Widgets ADEL: MAKALAH KAREKTERISTIK PERKEMBANGAN MORAL

Jumat, 06 Juni 2014

MAKALAH KAREKTERISTIK PERKEMBANGAN MORAL





KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb
Alhamdulillah, puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “karakteristik perkembangan moral”

Shalawat beserta salam semoga selamanya tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad saw. karena beliaulah yang membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang penuh dengan pengetahuan.
Salah satu tujuan dalam penulisan makalah ini adalah guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah “perkembangan peserta didik”.Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan.Oleh kerena itu, saran dan kritik maupun sumbangan pikiran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan isi makalah ini sangat penulis harapkan.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Ciamis,   04 juni 2014

 Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................        i   
DAFTAR ISI................................................................................................        ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................        1
1.1 Latar Belakang.............................................................................        1
1.2 Rumusan masalah.........................................................................        1
1.3 Tujuan Penulisan...........................................................................        1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................        2
2.1 Pengertian perkembangan moral...................................................        2
2.2 Tahap-tahap perkembangan moral................................................        3
2.3 Faktor yang mempengaruhi perkembangan moral........................        4
2.4 Upaya optimalisasi perkembangan moral……………………….        6
BAB III KESIMPULAN.............................................................................        8
BAB IV PENUTUP.....................................................................................        9
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................        10




















BAB I
PENDAHULUAN


1.      Latar belakang
Perkembangan moral adalah perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam kehidupan anak berkenaan dengan tatacara, kebiasaan, adat, atau standar nilai yang berlaku dalam kelompok sosial.
Tahap tahap perkembangan moral terdiri dari 3 tingkat, yang masing masing tingkat terdapat 2 tahap, yaitu :
Tingkat pra konvensional ( moralitas pra konvensional )
Tingkat konvensional ( moralitas konvensional)
Tingkat post konvensional ( moralitas post konvensional )
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral ini sesungguhnya banyak sekali yang terpenting antara lain:
1.      Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap orang dalam masyarakat
2.      Keadaan masyarakat yang kurang stabil
3.      Banyaknya tulisan dan gambar yang tidak mengindahkan dasar moral
4.      Tidak terlaksananya pendidikan moral yang baik
5.      Kurangnya kasadaran orang tua akan pentingnya pendidikan moral dasar sejak dini dll.

2.      Rumusan masalah
a.       Pengertian perkembangan moral
b.      Tahap-tahap perkembangan moral
c.       Factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral
d.      Upaya optimalisasi perkembangan moral

3.      Tujuan penulisan
a.       Untuk mengetahui perkembangan moral ?
b.      Untuk mengetaui tahap-tahap perkembangan moral ?
c.       Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral?
d.      Untuk mengetahui upaya optimalisasi perkembangan moral ?












BAB II
PEMBAHASAN


Pengertian Perkembangan Moral Pada Anak

Pengertian Perkembangan
1). Karena kata perkembangan sangat penting sehingga banyak para ahli ikut berkontribusi dalam mengartikan kata perkembangan.

Pengertian Moral
2). Secara etimologi istilah moral berasal dari bahasa Latin mos, moris (adat, istiadat, kebiasaan, cara, tingkah laku, kelakuan) mores (adat istiadat, kelakuan, tabiat, watak, akhlak) Banyak ahli menyumbangkan pemikirannya untuk mengartikan kata moral secara terminologi. Dagobert D. Runes Moral adalah hal yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik sebagai “kewajiban” atau “norma”. Helden (1977) dan Richards (1971) Moral adalah suatu kepekaan dalam pikiran, perasaan, dan tindakan dibandingkan dengan tindakan-tindakan lain yang tidak hanya berupa kepekaan terhadap prinsip-prinsip dan aturan-aturan. Atkinson (1969) Moral merupakan pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan Perilaku tak bermoral ialah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan yang sesuai dengan harapan sosial yang disebabkan dengan ketidaksetujuan dengan standar sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri.sementara itu perilaku amoral atau nonmoral adalah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial, akan tetapi hal itu lebih disebabkan oleh ketidak acuhan terhadap harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok.

3. Pengertian Perkembangan Moral
Setelah kita mengetahui arti dari kedua suku kata yaitu perkembangan dan moral maka selanjutnya yaitu kita muali memahami arti dari gamungan dua kata tersebut “Perkembangan Moral” Santrock (1995) Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Perkembangan moral adalah perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam kehidupan anak berkenaan dengan tatacara, kebiasaan, adat, atau standar nilai yang berlaku dalam kelompok sosial.
Bloom (Woolfolk dan Nicolich, 1984: 390) mengemukakan bahwa tujuan akhir dari proses belajar dikelompokkan menjadi tiga sasaran, yaitu penguasaan pengetahuan (kognitif), penguasaan nilai dan sikap (afektif), dan penguasaan psikomotorik. Masa bayi masih belum mempersoalkan masalah moral dan motorik, karena dalam kehidupan bayi belum dikenal hierarki dan suara hati.Perilakunya belum dibimbing oleh norma-norma moral.Pada masa anak-anak telah terjadi perkembangan moral yang relative rendah (terbatas).Anak belum menguasai nilai-nilai abstrak yang berkaitan dengan benar-salah dan baik buruk.Hal ini disebabkan oleh pengaruh perkembangan intelek yang masih terbatas.Anak belum mengetahui manfaat suatu ketentuan atau peraturan dan belum memiliki dorongan untuk mengerti peraturan-peraturan dalam kehidupan.Semakin tumbuh dan berkembang fisik dan psikisnya, anak mulai dikenalkan terhadap nilai-nilai, ditunjukkan hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh, yagn harus dilakukan dan yang dilarang. Menurut Piaget, pada awalnya pengenalan nilai dan perilaku serta tindakan itu masih bersifat “paksaan”, dan anak belum mengetahui maknanya. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan inteleknya, berangsur-angsur anak mengikuti berbagai ketentuan yang berlaku di dalam keluarga, dan semakin lama semakin luas sampai dengan ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat dan Negara. “Moral” berasal dari kata Latin, Mores yang berarti tatacara, kebiasaan dan adapt. Perilaku moral adalah perilaku yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat tertentu, atau pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.Perilaku tak bermoral ialah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan social yang disebabkan ketidaksetujuan dengan standar social atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri. Sementara itu perilaku amoral atau nonmoral adalah juga perilaku yang tidak sesuai dengan harapan social, akan tetapi hal itu lebih disebabkan oleh ketidakacuhan terhadap harapan kelompok social daripada pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok. Beberapa di antara perilaku menyimpang anak kecil lebih bersifat amoral daripada tak bermoral.

Tahap-tahap perkembangan moral

Tahap tahap perkembangan moral terdiri dari 3 tingkat, yang masing masing tingkat terdapat 2 tahap, yaitu :

Tingkat pra konvensional( moralitas pra konvensional )
tahap 1 : orientasi pada kepatuhan dan hukuman -> anak melakukan sesuatu agar memperoleh hadiah dan tidak mendapatkan hukuman
tahap 2 : relativistik hedonism -> anak tidak lagi secara mutlak tergantung aturan yang ada. Mereka mulai menyadari bahwa setiap kejadian bersifat relative dan lebih berorientasi pada prinsip kesenangan.enurut mussen,dkk. Orientasi moral anak masih bersifat individualistis, egosentris dan konkrit

Tingkat konvensional( moralitas konvensional ) : tingkat konvensional berfokus pada kebutuhan sosial ( konformitas )
tahap 3 : Orientasi mengenai anak yang baik -> anak memperlihatkan perbuatan yang dapat dinilai oleh orang lain
tahap 4 : mempertahankan norma norma sosial dan otoritas -> menyadari kewajiban untuk melaksankan norma norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma, artinya untuk dapat hidup secara harmonis, kelompok sosial harus menerima peraturan yang lebih disepakati bersama dan melaksanakannya.

tingkat post konvensional ( moralitas post konvensional ) : individu mendasarkan penilaian moral pad aprinsip yang benar secara intern
Tahap 5 : Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya -> Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan dengan linkungan sosialnya, artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tuntutan norma sosial, maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat.
tahap 6 : Prinsip universal -> pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi yang bersifat subjektif. Artinya dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat ada unsur unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu bbaik atau tidak baik moral atau tidak. Disini dibuthkan unsur etik / norma etik yang sifatnya universal sebgai sumber untuk menentukan suatu perilaku yang berhubungan dengan moralitas

Tahap-Tahap Perkembangan Moral Menurut kohlberg
Menurut Kohlberg (dalam Sunarto dan B. Agung Hrtono serta Mulyani Sumantri dan Nana Syaodih, 2002), ada tiga tingkat perkembangan moral.Masing-masing tingkat terdiri atas dua tahap, sehingga keseluruhannya ada enam tahapan (stadium) yang berkembang secara bertingkat dengan urutan yang tetap.
Tingkat pertama, disebut prakonventional morality (anak usia 4-10 tahun). Pada stadium 1, anak berorientasi kepada kepatuhan dan hukuman.Pada stadium 2, berlaku prinsip Relativistik-hedonism.Pada tahap ini anak tidak lagi secara mutlak bergantung kepada aturan yang ada di luar dirinya, atau ditentukan oleh orang lain, tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian mempunyai beberapa segi.
Tingkat kedua, disebut conventional morality (anak usia 10-13 tahun). Pada stadium 3, menyangkut orientasi mengenai anak yang baik. Pada stadium ini naak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain. Stadium 4, adalah tahap mempertahankan norma-norma social dan otoritas.Stadium 5, merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan social.Sedangkan stadium 6, disebut prinsip universal. Pada tahap ini ada norma etik disamping norma pribadi dan subjektif. Dalam hubungan dan perjanjian antara seseorang dengan masyarakatnya ada unsur-unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak baik.Perkembangan moral menurut Peaget terjadi dalam dua tahapan yang jelas. Tahap pertama disebut “tahap realisme moral” atau “moralitas oleh pembatasan” dan tahap kedua disebut “tahap moralitas otonomi” atau ‘moralitas oleh kerja sama atau hubungan timbal balik”. Pada tahap pertama, perilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran atau penilaian.Pada tahap kedua, anak menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya. Tahap ini biasanya dimulai antara usia 7 atau 8 tahun dan berlanjut hingga usia 12 tahun atau lebih. Anak mulai mempertimbangkan keadaan tertentu yang berkaitan dengan suatu pelanggaran moral. Misalnya bagi anak usia 5 tahun berbohong selalu “buruk”, tetapi anak yang lebih besar menyadari bahwa berbohong dibenarkan dalam situasi tertentu dan karenanya tidak selalu “buruk”.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral ini sesungguhnya banyak sekali yang terpenting antara lain:

1. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap orang dalam masyarakat
Keyakinan agama yang didasarkan pada pengertian yang sesungguhnya dan sejalan tentang ajaran agama yang dianutnya, kemudian diiringi dengan pelaksanaan ajaran-ajaran tersebut merupakan benteng moral yang paling kokoh. Apabila berkeyakinan beragama itu betul-betul telah menjadi bagian integral dari kepribadian seseorang, keyakinannya itulah yang akan mengawasi segala tindakan, perkataan bahkan perasaanya jika terjadi tarikan orang kepada sesuatu yang tampaknya cepat berpindah meneliti apakah hal tersebut boleh atau terlarang oleh agamanya. Andaikan yang termasuk terlarang betapapun tarikan luar itu tidak akan diindahkannya karena takut melaksanakan yang dilarang oleh agamanya.

2. Keadaan masyarakat yang kurang stabil
Faktor kedua yang ikut mempengaruhi moral masyarakat ialah kurang stabilnya keadaan, baik ekonomi, sosial, budaya maupun politik.Kegoncangan atau ketidakstabilan suasana yang menyelimuti seseorang menyebabkan cemas dan gelisah, akibat tidak dapatnya mencapai rasa aman dan ketentraman dalam hidup.Misalnya apabila keadaan ekonomi goncang, harga barang-barang naik turun dalam batas yang tidak dapat diperkirakan lebih dahulu oleh orang-orang dalam masyarakat, maka untuk mencari keseimbangan jiwa kembali, orang terpaksa berusaha keras.jika ia gagal dalam usahanya yang sehat, disinilah terjadi penyelewengan.

3. Banyaknya tulisan dan gambar yang tidak mengindahkan dasar moral
Suatu hal yang belakangan ini kurang mendapat perhatian kita ialah tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, kesenian-kesenian dan permainan-permainan yang seolah-olah mendorong anak-anak muda untuk mengikuti arus mudanya.Segi moral dan mental kurang mendapat perhatian, hasil-hasil seni itu sekedar ungkapan dari keinginan dan kebutuhan yang sesungguhnya tidak dapat dipenuhi begitu saja.Lalu digambarkan dengan sangat realistis, sehingga semua yang tersimpan di dalam hati anak-anak muda diungkap dan realisasinya terlihat dalam cerita lukisan atau permainan tersebut.Ini pun mendorong anak-anak muda ke jurang kemerosotan moral.

4. Tidak terlaksananya pendidikan moral yang baik
Faktor keempat yang juga penting, adalah tidak terlaksananya pendidikan moral yang baik, dalam rumah tangga, sekolah dan masyarakat.Pembinaan moral, seharusnya dilaksanakan sejak si anak kecil, sesuai dengan kemampuan umurnya.Karena setiap anak lahir, belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, dan belum tahu batas-batas dan ketentuan moral yang berlaku dalam lingkungannya. Tanpa dibiasakan menanamkan sikap-sikap yang dianggap baik buat pertumbuhan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal moral itu. juga perlu diingatkan bahwa pengertian moral, belum dapat menjamin tindakan moral. Pada dasarnya moral bukanlah suatu pelajaran atau ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan mempelajari, tanpa membiasakan hidup bermoral dari kecil dan moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian, tidak sebaliknya.

5. Kurangnya kasadaran orang tua akan pentingnya pendidikan moral dasar sejak dini
Moral adalah salah satu buah iman oleh karena itu maka agar anak mempunyai moral yang bagus harus dilandasi dengan iman dan terdidik untuk selalu ingat pasrah kapada-Nya, dengan begitu anak akan memiliki bekal pengetahuan untuk terbiasa mulia, sebab benteng religi sudah mengakar di dalam hatinya.

6. Banyaknya orang melalaikan budi pekerti
Budi pekerti adalah mengatakan atau melakukan sesuatu yang terpuji atau perangai yang baik. Penanaman budi pekerti dalam jiwa anak sangat penting apabila dilihat dari hadits Nabi: “Seorang bapak yang mendidik anaknya adalah lebih baik dari pada bersedekah sebanyak satu sha”. “Tidak ada pemberian seorang bapak kepada anaknya yang lebih baik dari pada budi pekerti”.Namun sebagian orang tua melalaikan kepentingan pembinaan budi pekerti dan sopan santun anak. Para orang tua yang malang itu tidak sadar, bahwa ia telah menjerumuskan anaknya sendiri ke jurang, padahal pembinaan budi pekerti adalah hak anak atas orang tuanya seperti hak makan, minum serta nafkah.

7. Suasana rumah tangga yang kurang baik
Faktor yang terlihat dalam masyarakat sekarang ialah kerukunan hidup dalam rumah tangga kurang terjamin.Tidak tampak adanya saling pengertian, saling menerima, saling menghargai, saling mencintai diantara suami istri.Tidak rukunnya ibu bapak menyebabkan gelisahnya anak-anak mereka menjadi takut, cemas dan tidak tahan berada di tengah-tengah orang tua yang tidak rukun. Anak-anak yang gelisah dan cemas itu mudah terdorong kepada perbuatan-perbuatan yang merupakan ungkapan dari rasa hatinya, biasanya mengganggu ketentraman orang lain.

8. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu luang
Suatu faktor yang telah ikut juga memudahkan rusaknya moral anak-anak muda, ialah kurangnya bimbingan dalam mengisi waktu luang, dengan cara yang baik dan sehat. Pada rentang usia dini akhir adalah usia dimana anak suka berkhayal, melamunkan hal yang jauh atau sulit dijangkau. Kalau mereka dibiarkan tanpa bimbingan dalam mengisi waktu luang maka akan banyak lamunan yang kurang sehat timbul dari mereka.

9. Kurangnya tempat layanan bimbingan
Terakhir perlu dicatat, bahwa kurangnya tempat layanan bimbingan dan penyuluhan yang akan menampung dan menyalurkan anak-anak ke arah mental yang sehat. Dengan kurangnya atau tidak adanya tempat kembali bagi anak-anak yang gelisah dan butuh bimbingan itu, maka pergilah mereka berkelompok dan bergabung kepada anak-anak yang juga gelisah. Dari sinilah akan keluar model kelakuan anak yang kurang menyenangkan.

Upaya Optimalisasi Perkembangan Moral

Hurlock mengemukakan ada empat pokok utama yang perlu dipelajari oleh anak dalam mengoptimalkan perkembangan moralnya, yaitu:

1.        Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum. Harapan tersebut terperinci dalam bentuk hukum, kebiasaan dan peraturan. Tindakan tertentu yang dianggap “benar” atau “salah” karena tindakan itu menunjang, atau dianggap tidak menunjang, atau menghalangi kesejahteraan anggota kelompok. Kebiasaan yang paling penting dibakukan menjadi peraturan hukum dengan hukuman tertentu bagi yang melanggarnya. Yang lainnya, bertahan sebagai kebiasaan tanpa hukuman tertentu bagi yang melanggarnya.

2.        Pengambangan hati nurani  sebagai kendali internal bagi perliaku individu. Hati nurani merupakan tanggapan terkondisikan terhadap kecemasan mengenai beberapa situasi dan tindakan tertentu, yang telah dikembangkan dengan mengasosiasikan tindakan agresif dengan hukum.


3.        Pengembangan perasaan bersalah dan rasa malu. Setelah mengembangkan hati nurani, hati nurani mereka dibawa dan digunakan sebagai pedoman perilaku. Rasa bersalah adalah sejenis evaluasi diri, khusus terjadi bila seorang individu mengakui perilakunya berbeda dengan nilai moral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi. Rasa malu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan yang timbul pada seseorang akibat adanya penilaian negatif terhadap dirinya. Penilaian ini belum tentu benar-benar ada, namun mengakibatkan rasa rendah diri terhadap kelompoknya.

4.        Mencontohkan, memberikan contoh berarti menjadi model perilaku yang diinginkan muncul dari anak, karena cara ini bisa menjadi cara yang paling efektif untuk membentuk moral anak.


5.        Latihan dan Pembiasaan, menurut Robert Coles (Wantah, 2005) latihan dan pembiasaan merupakan strategi penting dalam pembentukan perilaku moral pada anak usia dini. Sikap orang tua dapat dijadikan latihan dan pembiasaan bagi anak. Sejak kecil orang tua selalu merawat, memelihara, menjaga kesehatan dan lain sebagainya untuk anak. Hal ini akan mengajarkan moral yang positif bagi anak

6.    Kesempatan melakukan interaksi dengan anggota kelompok sosial. Interaksi sosial memegang peranan penting dalam perkembangan moral. Tanpa interaksi dengan orang lain, anak tidak akan mengetahui perilaku yang disetujui secara social, maupun memiliki sumber motivasi yang mendorongnya untuk tidak berbuat sesuka hati.
Interaksi sosial awal terjadi didalam kelompok keluarga. Anak belajar dari orang tua, saudara kandung, dan anggota keluarga lain tentang apa yang dianggap benar dan salah oleh kelompok sosial tersebut. Disini anak memperoleh motivasi yanjg diperlukan untuk mengikuti standar perilaku yang ditetapkan anggota keluarga.
Melalui interaksi sosial, anak tidak saja mempunyai kesempatan untuk belajar kode moral, tetap mereka juga mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana orang lain mengevaluasi perilaku mereka. Karena pengaruh yang kuat dari kelompok sosial pada perkembangan moral anak, penting sekali jika kelompok sosial, tempat anak mengidentifikasikan dirinya mempunyai standar moral yang sesuai dengan kelompok sosial yang lebih besar dalam masyarakat.















BAB III
KESIMPULAN



Dari pembahasan makalah tersebut diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa, perkembangan moral adalah perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam kehidupan anak berkenaan dengan tata cara, kebiasaan, adapt atau standar nilai yang berlaku dalam kelompok social. Factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral diantaranya adalah factor seberapa banyak model (orang-orang dewasa yagn simpatik, teman-teman, orang-orang terkenal, dan hal-hal lain) yang didentifikasi oleh anak sebagai gambaran-gambaran ideal, termasuk factor tingkat harmonisasi hubungan orang tua, anak dan factor dari masyarakat yagn menyangkut longgar atau ketatnya control masyarakat dalam menerapkan sangsi-sangsi terhadap pelanggar-pelanggarannya. Dan factor yang tidak kalah pengaruhnya adalah tingkat penalaran anak, yakni makin tinggi tingkat penalaran seorang anak maka tinggi pula tingkat moralnya. Dalam upaya optimalisasi perkembangan moral, ada empat pokok utama yang perlu dipelajari oleh anak: a. Mempelajari apa yang diharapkan kelompok social dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hokum, kebiasaan dan peraturan b. Mengembangkan hati nurani c. Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok d. Mempunyai kesempatan untuk berinteraksi social untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok.
























BAB IV
PENUTUP

Dengan mengucapkan syukur al-hamdulillah, akhirnya penulis telah menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul karakteristik perkembangan moral yang terdiri dari pengertian, tahap-tahap, factor , upaya optimalisasi perkembangan moral.
Mudah-mudahan dengan selesainya pembuatan makalah ini, penulis dapat mengembangkan wawasan tentang apa yang terdapat dalam isi makalah ini.
 Semoga dengan adanya makalah ini, saya selaku penulis dapat  mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengajarkannya kepada para siswa/i di sekolah/madrasah di mana kita berbakti untuk kepentingan syiar agama islam.
Semoga Allah swt. Memberi rahmat kepada kita semua, supaya apa yang dikerjakan oleh kita semua dapat bermanfaat dan mendapat ridho dari Allah swt. Amin.



























DAFTAR PUSTAKA

Dra. Desmita, M.Si. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Remaja Rosdakarya, Bandung, tt Dra. Enung Fatimah, M.M. Psikologi Perkembangan. Pustaka Setia, Bandung. 2006 Fauzi, H. Ahmad. Psikologi Umum. CV Pustaka Setia, Bandung. 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar